HAKIKAT MANUSIA
Berbicara tentang manusia maka satu pertanyaan klasik yang
sampai saat ini belum memperoleh jawaban yang memuaskan adalah pertanyaan
tentang siapakah manusia itu. Banyak teori telah dikemukakan, di antaranya
adalah pemikiran dari aliran materialisme, idealisme, realisme klasik, dan
teologis.
Aliran materialisme mempunyai pemikiran bahwa materi atau
zat merupakan satu-satunya kenyataan dan semua peristiwa terjadi karena proses
material ini, sementara manusia juga dianggap juga ditentukan oleh
proses-proses material ini.
Sedangkan aliran idealisme beranggapan bahwa jiwa adalah
kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk
kejiwaan/kerohanian. Aliran realisme klasik beranggapan bahwa jiwa adalah
kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk
kejiwaan/kerohanian, dan aliran teologis membedakan manusia dari makhluk lain
karena hubungannya dengan Tuhan.
ARTI KEBUDAYAAN
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala
sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki
oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah
Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun
temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai
superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan
pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala
pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut kebudayaan adalah sesuatu
yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan
yang terdapat dalam pikiran manusia yaitu:
A. Unsur-Unsur
Unsur kebudayaan
Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4
unsur pokok, yaitu:
1. alat-alat teknologi
2. sistem ekonomi
3. keluarga
4. kekuasaan politik
Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang
meliputi:
1. sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara
para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
2. organisasi ekonomi
3. alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk
pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
4. organisasi kekuatan (politik)
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi
tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
a. Gagasan (Wujud ideal)
yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak. Wujud kebudayaan terletak di alam pemikiran
warga masyarakat maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada hasil karya para
penulis warga masyarakat tersebut.
hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. . Sistem
sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi,
mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya
b. Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya
c. Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari
aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa
benda-benda Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari
aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa
benda-benda
B.Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan
atas dua komponen utama:
a. Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat
yang nyata, konkret.
b. Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang
diwariskan dari generasi ke generasi,
HUBUNGAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan.
Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan
kebudayaan. Tindakan yang berupa
kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar
Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga
dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia
mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai
1) penganut
kebudayaan,
2) pembawa kebudayaan,
3) manipulator kebudayaan, dan
4) pencipta
kebudayaan.
Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada
persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. manusia harus mampu memenuhi
apa yang menjadi kebutuhannya
Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan.
Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa
kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman dalam
bertingkah laku.
MANUSIA INDONESIA DAN KEBUDAYAAN
Manusia Indonesia dalam hal kebudayaan saat ini mengalami
berbagai rintangan dan halangan untuk menerima serbuan kebudayaan asing yang
masuk lewat Globalisasi. Dalam hal ini
sering terlihat ketidakmampuan manusia di Indonesia untuk beradaptasi dengan
baik terhadap kebudayaan asing sehingga melahirkan perilaku yang cenderung ke
Barat-baratan (westernisasi). Hal tersebut terlihat dengan seringnya remaja/i
Indonesia keluar-masuk pub, diskotik dan tempat hiburan malam lainnya berikut
dengan berbagai perilaku menyimpang yang menyertainya dan sering melahirkan
komunitas tersendiri Bila dikaji dengan teliti hal tersebut mungkin dikarenakan
ciri-ciri manusia Indonesia lama yang masih melekat seperti percaya mitos dan
mistik, sikap suka berpura-pura, percaya takhyul yang dimodifikasi,
konsumerisme, suka meniru, rendahnya etos kerja dan lain sebagainya bisa jadi
mengakibatkan terhambatnya akulturasi (percampuran dua/lebih kebudayaan yang
dalam percampurannya masing-masing unsurnya lebih tampak). Sikap etnosentrime
(kecenderungan setiap kelompok untuk percaya begitu saja akan
keunggulan/superioritas kebudayaannya sendiri dan sikap senosentrisme (sikap
yang lebih menyenangi pandangan/produk asing) merupakan hal selanjutnya yang
dapat menghambat terwujudnya kebudayaan nasional untuk kemajuan bangsa dan
negara.
Sepertinya, sudah saatnya manusia Indonesia berikut dengan
berbagai kebudayaan daerahnya yang ada melakukan suatu bentuk adaptasi yang
sifatnya inovasi/pembaruan dengan budaya Barat/asing seperti dalam hal kesenian
dimana instrumen musik tradisional dipadukan dengan instrumen modern (alat-alat
band dengan teknologi komputernya) maupun perawatan berbagai benda kebudayaan dengan
teknologi asing yang ada sehingga akulturasi dapat diwujudkan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar